{"id":11541,"date":"2024-03-02T16:23:48","date_gmt":"2024-03-02T09:23:48","guid":{"rendered":"https:\/\/jailangkung.com\/?p=11541"},"modified":"2024-03-02T16:23:50","modified_gmt":"2024-03-02T09:23:50","slug":"tren-baru-di-korea-selatan-wanita-lebih-memilih-karier-daripada-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jailangkung.com\/tren-baru-di-korea-selatan-wanita-lebih-memilih-karier-daripada-anak\/","title":{"rendered":"Tren Baru di Korea Selatan: Wanita Lebih Memilih Karier daripada Anak"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>jlk<\/em> &#8211; Jika Anda pernah berkunjung ke Korea Selatan, Anda mungkin akan terkesan dengan berbagai hal yang ditawarkan oleh negara ini. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mulai dari keindahan alam, kekayaan budaya, kemajuan teknologi, hingga kelezatan kuliner. Namun, ada satu hal yang mungkin tidak Anda sadari saat berada di sana: anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ya, anak-anak. Makhluk kecil yang biasanya menjadi sumber kebahagiaan, kegembiraan, dan harapan bagi banyak orang. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ternyata, di Korea Selatan, anak-anak semakin jarang ditemukan. Bukan karena mereka disembunyikan atau dikurung di rumah, melainkan karena mereka semakin sedikit dilahirkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut data statistik pemerintah, tingkat kesuburan atau jumlah rata-rata kelahiran per wanita di Korea Selatan menyusut menjadi 0,72 pada tahun 2023. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Angka ini jauh di bawah 2,1 anak yang dibutuhkan untuk mempertahankan populasi suatu negara. Jika tren ini terus berlanjut, diperkirakan populasi Korea Selatan akan berkurang setengahnya pada tahun 2100.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu, mengapa wanita Korea Selatan tidak ingin punya anak? Apa yang menyebabkan mereka mengambil keputusan yang tampaknya bertentangan dengan naluri biologis dan sosial mereka? Apakah ada alasan ilmiah di balik fenomena ini?<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Alasan Ekonomi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu alasan utama yang sering dikemukakan oleh wanita Korea Selatan yang memilih untuk tidak memiliki anak adalah alasan ekonomi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Biaya hidup di Korea Selatan tergolong tinggi, terutama di kota-kota besar seperti Seoul. Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Korea Institute for Health and Social Affairs, biaya rata-rata untuk membesarkan seorang anak di Korea Selatan mencapai 289 juta won (sekitar Rp 3,8 miliar) hingga usia 18 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Biaya ini belum termasuk biaya pendidikan, yang juga sangat mahal di Korea Selatan. Menurut data OECD, Korea Selatan adalah negara dengan pengeluaran pendidikan tertinggi di dunia, yaitu sekitar 8,6 persen dari PDB. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain biaya sekolah formal, banyak orang tua Korea Selatan juga mengeluarkan uang untuk biaya les tambahan, seperti bahasa asing, musik, olahraga, dan lain-lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan biaya hidup dan pendidikan yang tinggi, banyak wanita Korea Selatan yang merasa tidak mampu atau tidak mau mengorbankan kesejahteraan finansial mereka untuk memiliki anak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apalagi, jika mereka harus menghadapi persaingan yang ketat di dunia kerja, yang masih didominasi oleh laki-laki. Menurut data World Economic Forum, Korea Selatan berada di peringkat 108 dari 156 negara dalam hal kesetaraan gender.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Alasan Sosial<\/h2>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain alasan ekonomi, alasan sosial juga berperan dalam menurunkan tingkat kesuburan di Korea Selatan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu alasan sosial yang paling menonjol adalah perubahan pola pikir dan gaya hidup wanita Korea Selatan, yang semakin modern, mandiri, dan berorientasi pada karier. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak wanita Korea Selatan yang merasa tidak perlu menikah atau memiliki anak untuk merasa bahagia atau berharga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, mereka lebih memilih untuk mengejar impian dan aspirasi mereka, baik dalam bidang akademik, profesional, maupun pribadi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka juga lebih menikmati kebebasan dan fleksibilitas yang mereka miliki sebagai orang yang tidak terikat oleh tanggung jawab keluarga. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka dapat bepergian, belajar, berhobi, bersosialisasi, dan melakukan hal-hal yang mereka sukai tanpa harus mempertimbangkan kepentingan orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alasan sosial lainnya yang mempengaruhi keputusan wanita Korea Selatan untuk tidak memiliki anak adalah budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat Korea Selatan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun wanita Korea Selatan telah mencapai kemajuan dalam hal pendidikan dan pekerjaan, mereka masih menghadapi diskriminasi dan tekanan dalam hal peran gender. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wanita Korea Selatan masih dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak, sementara laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah utama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal ini menyebabkan wanita Korea Selatan yang bekerja harus menghadapi dilema antara karier dan keluarga, yang sering kali sulit untuk diseimbangkan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak wanita Korea Selatan yang mengalami stres, depresi, atau bahkan perceraian karena tidak dapat memenuhi harapan masyarakat atau pasangan mereka. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, banyak wanita Korea Selatan yang memilih untuk menghindari pernikahan atau kehamilan, yang mereka anggap sebagai beban atau penghalang bagi kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Alasan Psikologis<\/h2>\n\n\n\n<!--nextpage-->\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain alasan ekonomi dan sosial, alasan psikologis juga berpengaruh dalam menentukan sikap wanita Korea Selatan terhadap anak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa wanita Korea Selatan memiliki tingkat kebahagiaan yang rendah, yang dapat memengaruhi keinginan mereka untuk memiliki anak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Gallup Korea pada tahun 2020, hanya 32 persen wanita Korea Selatan yang merasa bahagia, dibandingkan dengan 48 persen laki-laki Korea Selatan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salah satu faktor yang dapat menurunkan tingkat kebahagiaan wanita Korea Selatan adalah tekanan sosial yang tinggi, yang dapat berasal dari keluarga, teman, rekan kerja, atau masyarakat. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wanita Korea Selatan sering kali harus memenuhi standar yang tinggi dalam hal penampilan, pendidikan, pekerjaan, status, dan lain-lain. Mereka juga harus menghadapi kritik, gosip, atau perundungan jika mereka tidak sesuai dengan norma atau harapan yang berlaku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat kebahagiaan wanita Korea Selatan adalah kurangnya dukungan sosial, yang dapat memberikan rasa aman, nyaman, dan terhubung dengan orang lain. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wanita Korea Selatan yang bekerja sering kali merasa kesepian, terisolasi, atau tidak dihargai di tempat kerja, yang didominasi oleh laki-laki. Wanita Korea Selatan yang tidak bekerja juga sering kali merasa bosan, tidak berguna, atau tidak diakui di rumah, yang didominasi oleh suami atau mertua.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan tingkat kebahagiaan yang rendah, wanita Korea Selatan mungkin tidak merasa termotivasi atau bersemangat untuk memiliki anak, yang mereka anggap sebagai sumber stres, masalah, atau tanggung jawab tambahan. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka mungkin juga merasa tidak percaya diri, tidak kompeten, atau tidak siap untuk menjadi ibu, yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka sendiri maupun anak mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada berbagai alasan ilmiah yang dapat menjelaskan mengapa wanita Korea Selatan tidak ingin punya anak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alasan-alasan ini meliputi faktor ekonomi, sosial, dan psikologis, yang saling berkaitan dan mempengaruhi sikap, perilaku, dan keputusan wanita Korea Selatan terkait dengan reproduksi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, alasan ilmiah ini tidak berarti bahwa wanita Korea Selatan tidak memiliki hak atau kemampuan untuk memiliki anak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap wanita memiliki kebebasan dan kewenangan untuk menentukan nasib dan kehidupan mereka sendiri, termasuk dalam hal memiliki atau tidak memiliki anak. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tidak ada yang dapat menghakimi atau memaksa wanita Korea Selatan untuk mengikuti standar atau norma yang ditetapkan oleh orang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah penghargaan dan pengertian terhadap pilihan dan preferensi wanita Korea Selatan, serta dukungan dan bantuan yang memadai bagi mereka yang membutuhkannya. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>jlk &#8211; Jika Anda pernah berkunjung ke Korea Selatan, Anda mungkin akan terkesan dengan berbagai hal yang ditawarkan oleh negara ini. Mulai dari keindahan alam, kekayaan budaya, kemajuan teknologi, hingga kelezatan kuliner. Namun, ada satu hal yang mungkin tidak Anda sadari saat berada di sana: anak-anak. Ya, anak-anak. Makhluk kecil yang biasanya menjadi sumber kebahagiaan, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":17,"featured_media":11542,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[11677,11675,11679],"class_list":["post-11541","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","category-sorotan","tag-fenomena-korsel","tag-korea-selatan","tag-korsel-krisis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/11541","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/users\/17"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/comments?post=11541"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/posts\/11541\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/media\/11542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/media?parent=11541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/categories?post=11541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jailangkung.com\/api-json\/wp\/v2\/tags?post=11541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}