Mari kita bicara jujur, tanpa tedeng aling-aling, tentang fenomena menggelikan sekaligus miris yang belakangan ini makin marak: Umrah Bendrengan.
Bagi Anda yang pura-pura tidak tahu atau belum familier dengan istilah jalanan ini, “bendrengan” adalah eufemisme atau bahasa halus dari ngutang, nyicil, atau kredit dengan bunga yang seringkali mencekik leher.
Bedanya, kalau biasanya istilah ini dipakai untuk panci atau daster, kali ini objeknya adalah ibadah ke Tanah Suci.
Di atas kertas, skema ini dilabeli dengan istilah mentereng nan surgawi: “Dana Talangan Syariah”, “Solusi Rindu Baitullah”, atau “Berangkat Dulu Bayar Belakangan”.
Tapi di lapangan? Ini tak ubahnya perbudakan finansial berkedok agama yang memangsa mereka yang logika matematikanya mati suri karena tertutup nafsu ibadah yang tercampur aduk dengan gengsi sosial.
Definisi Istitha’ah yang Diperkosa
Mari kita buka kitab fiqih paling dasar sekalipun. Syarat haji dan umrah itu jelas, tegas, dan tidak bisa ditawar: Istitha’ah (Mampu). Mampu secara fisik, mampu secara mental, dan—catat baik-baik dengan tinta merah—mampu secara finansial.
Tuhan itu Maha Kaya dan Maha Tahu. Dia tidak mewajibkan hamba-Nya yang dompetnya pas-pasan, yang buat bayar listrik saja masih Senin-Kamis, untuk memaksakan diri terbang ke Mekkah.
Tapi entah kenapa, banyak orang Indonesia merasa lebih tahu dari Tuhannya. Mereka menciptakan definisi “mampu” versi akal-akalan mereka sendiri: “Mampu membayar cicilan selama 3 tahun ke depan sambil makan nasi garam dan dikejar-kejar tagihan.”
Umrah Bendrengan adalah bukti nyata betapa kita lebih takut pada penilaian tetangga daripada realistis terhadap nasib sendiri. Kita tega memperkosa konsep Istitha’ah demi sebuah status sosial.
Apa namanya kalau bukan “maksa”? Memaksakan ibadah sunnah (umrah) dengan cara melakukan hal yang berisiko haram (riba/muamalah fasad) atau minimal makruh karena memberatkan diri sendiri? Itu bukan kesalehan, itu kebodohan yang dibungkus kain ihram.
Predator Berjubah Biro Travel
Di sisi lain, mari kita damprat para penyedia jasa ini. Biro travel atau lembaga pembiayaan yang menawarkan program “Berangkat Dulu, Bayar Nanti” adalah pebisnis ulung yang tahu betul celah psikologis umat.
Mereka adalah predator yang tahu orang Indonesia itu “baperan” dan sumbu pendek kalau soal agama. Cukup pasang foto Kaabah dengan caption sedih menyayat hati, “Kapan giliranmu dipanggil Allah?”, dan boom! Orang-orang yang tabungannya nol besar pun antre mendaftar, menyerahkan leher mereka untuk dijerat hutang.
Mereka menjual mimpi dengan harga yang tidak masuk akal. Coba hitung dengan kalkulator warung. Paket umrah yang harga tunainya 30 juta, bisa membengkak jadi 45 atau 50 juta kalau dihitung total cicilannya selama beberapa tahun.
Selisih 15-20 juta itu kemana? Biaya administrasi? Margin keuntungan? Atau bahasa halusnya bunga lintah darat?
Anda pikir mereka menolong Anda beribadah? Jangan naif. Tidak ada makan siang gratis. Mereka sedang menjerat leher Anda dengan tali hutang jangka panjang. Anda sedang dijadikan sapi perah.
Saat Anda menangis haru di depan Multazam, meteran bunga mereka terus berjalan “argo”-nya. Ironis, bukan? Berdoa minta rezeki lancar di Tanah Suci, tapi pulang membawa “oleh-oleh” berupa hutang yang bikin rezeki seret bertahun-tahun.
Gengsi Berbalut Religi: FOMO Syariah
Kenapa program gila macam Umrah Bendrengan ini laku keras? Jawabannya sederhana dan menyakitkan: Gengsi.
Di kultur masyarakat kita, status “sudah ke Tanah Suci” itu seolah jadi tiket VIP sosial. Ada tekanan mental ketika melihat tetangga sebelah, yang kerjanya serabutan atau pedagang pasar, tiba-tiba bisa update status dan selfie di pelataran Masjid Nabawi. Lalu muncul bisikan setan dalam hati: “Masa dia bisa, aku enggak? Malu dong sama besan.”
Akhirnya, logika dibuang ke tong sampah. Tanda tangan kontrak hutang pun jadi. Yang penting berangkat, yang penting ada foto di depan Kaabah buat profile picture WhatsApp biar dikira saleh, yang penting pulang dipanggil “Pak Haji/Bu Hajjah” (padahal cuma umrah). Urusan bayar cicilan? Ah, pikir belakangan. “Rezeki Allah yang atur,” begitu dalih klasiknya untuk menutupi kenekatan.
Padahal, “Rezeki Allah yang atur” itu bukan berarti Anda boleh bertindak tolol tanpa perhitungan. Itu namanya menantang Tuhan, bukan tawakal. Tawakal itu ikat dulu untamu, baru berserah. Bukan lepaskan untamu, lalu ngutang beli unta baru, dan berharap unta itu bayar cicilannya sendiri.
Pulang Umrah, Hidup Sengsara
Bagian paling “nyelekit” dari skema ini adalah realita pasca-kepulangan. Euforia spiritual itu paling bertahan seminggu atau dua minggu. Setelah air zam-zam habis dibagikan ke tamu, setelah kurma ludes dimakan keponakan, yang tersisa di meja makan hanyalah surat tagihan bulanan.
Bayangkan skenario horor ini: Anda pulang dengan hati yang konon bersih, tapi setiap tanggal 1, jantung Anda berdegup kencang bukan karena zikir mengingat Allah, tapi karena takut didatangi debt collector. Ibadah macam apa yang menghasilkan ketidaktenangan hidup seperti ini?
Banyak kasus rumah tangga berantakan gara-gara cicilan umrah bendrengan ini. Uang belanja dipotong, biaya sekolah anak nunggak, motor ditarik leasing, semua demi melunasi “wisata spiritual” yang sudah lewat.
Apakah Allah ridho dengan ibadah sunnah yang mengorbankan nafkah wajib keluarga? Pakai akal sehatmu. Menafkahi anak istri itu wajib, umrah itu sunnah (bagi yang mampu). Membalik prioritas ini adalah tanda kedangkalan nalar beragama yang akut.
Stop Romantisasi Kemiskinan dan Kebodohan
Artikel ini mungkin terdengar kejam bagi Anda yang “kebelet” ke Tanah Suci tapi tak punya uang. Tapi ketahuilah, obat yang manjur itu memang rasanya pahit.
Berhenti meromantisasi kemiskinan dengan dalih “panggilan hati”. Kalau Allah belum memampukan Anda secara finansial, berarti Allah memang belum memanggil Anda. Titik. Itu bukan hukuman, itu kasih sayang Allah agar hamba-Nya tidak terbebani di luar batas kemampuan.
Anda bisa beribadah di masjid sebelah rumah, menyantuni yatim piatu, atau berbakti pada orang tua yang pahalanya bisa setara jihad, tanpa perlu berhutang sepeser pun.
Jangan sampai ibadah Anda hanya jadi ajang flexing rohani yang didanai oleh sistem kapitalisme ribawi. Umrah Bendrengan adalah jebakan.
Jangan tukar ketenangan hidup Anda dengan foto selfie di Mekkah yang dibayar dengan cicilan berdarah-darah.
Kalau rindu, menabunglah. Kalau belum cukup, bersabarlah. Tuhan mencintai orang yang sabar dan realistis, bukan orang yang nekat, halu, dan memaksakan kehendak dengan cara berhutang.
Ingat, Kaabah tidak akan lari kemana-mana, tapi debt collector akan mengejar Anda sampai ke lubang tikus sekalipun.


