Alasan-Alasan Kenapa Saya Tidak Selalu atau Selalu Tidak Pakai Songkok

By
rasyiqi
Writer, Digital Marketer
- Writer, Digital Marketer
4 Min Read
Alasan-Alasan Kenapa Saya Tidak Selalu atau Selalu Tidak Pakai Songkok (Ilustrasi)

Ada dua jenis orang di dunia ini: yang pakai songkok dan yang tidak. Saya? Saya berada di tengah-tengah, tergantung mood, cuaca, dan tingkat kesabaran terhadap pertanyaan-pertanyaan tak perlu.

Berikut adalah beberapa alasan ilmiah (dan tidak ilmiah) mengapa saya kadang pakai songkok, kadang tidak, atau lebih sering memilih untuk membiarkan kepala saya bernapas dengan bebas.

Kepala Juga Butuh Oksigen

Kita sering disuruh makan sehat, olahraga, minum air putih yang cukup. Tapi jarang ada yang bilang, “Biarkan kepalamu bernapas!” Nah, saya mendukung hak asasi kepala.

Pakai songkok terlalu lama bisa bikin kepala sumpek, rambut berkeringat, lalu tiba-tiba muncul fenomena langka: kepala gatal tanpa sebab jelas.

Songkok = Helm Sosial

Memakai songkok dalam beberapa acara membuat saya aman dari tatapan aneh. Tidak pakai songkok? Siap-siap menerima komentar random dari orang-orang yang merasa hidupnya lebih lengkap setelah menegur kepala orang lain.

“Wah, kok nggak pakai songkok?” Sebuah pertanyaan yang tampaknya tidak butuh jawaban, tapi penuh dengan harapan.

Antara Fashion dan Tradisi

Kadang saya pakai songkok karena ingin terlihat seperti orang terhormat yang baru keluar dari acara seminar kebangsaan.

Tapi di lain hari, saya ingin menikmati rambut saya yang jarang-jarang bisa bebas terpapar sinar matahari tanpa sensor dari kain beludru. Songkok memang keren, tapi kebebasan berekspresi lebih keren lagi.

Songkok Bisa Menyebabkan Kepanikan

Saya pernah lupa pakai songkok ke acara resmi. Rasanya seperti lupa bawa dompet, HP, dan harga diri sekaligus.

- Advertisement -

Orang-orang menatap dengan ekspresi campuran antara iba dan keheranan, seakan-akan saya baru saja melakukan dosa sosial yang tidak bisa diampuni.

Sejak saat itu, saya menyimpan satu songkok darurat di dalam tas—untuk menghindari kejadian traumatis terulang.

Efek Aerodinamis dan Keseimbangan Tubuh

Saya sudah cukup sering mengalami hari-hari di mana saya merasa lebih ringan tanpa songkok. Angin lebih bebas menyapa kepala, dan saya bisa berpikir lebih jernih. Mungkin ini placebo, mungkin ini hanya alasan untuk malas memakai songkok. Tapi siapa yang peduli? Hidup terlalu singkat untuk repot soal tutup kepala.

- Advertisement -

Keamanan Rambut di Bawah Songkok

Ada mitos bahwa songkok melindungi rambut dari polusi. Faktanya, kalau songkoknya dipakai terus-terusan tanpa dicuci, yang ada malah polusi menumpuk di dalamnya.

Rambut jadi korban, lepek, dan kadang-kadang beraroma khas “belum dicuci sebulan.” Jadi, kalau mau pakai songkok, pastikan tidak berubah fungsi menjadi sarang mikroba.

Faktor Kenyamanan

Saat cuaca panas, songkok bisa berubah jadi alat sauna mini untuk kepala. Saat hujan, ia jadi spons penampung air. Saat angin kencang, ia bisa lepas dan membuat Anda berlari mengejarnya seperti adegan film komedi.

Jadi, saya memilih dengan bijak kapan harus memakai dan kapan harus membiarkan kepala saya menikmati kebebasan.

Pakai atau Tidak Pakai, Itu Urusan Kepala Sendiri

Pada akhirnya, keputusan untuk memakai songkok atau tidak itu sangat personal. Mau pakai? Silakan.

Tidak mau? Santai saja. Jangan sampai pilihan sederhana ini membuat Anda stres atau jadi bahan pergunjingan di grup keluarga. Yang penting, kepala tetap sehat, rambut tetap bahagia, dan hidup tetap berjalan dengan penuh canda tawa.

Topik:
Share This Article