Saham Bank Mayapada Merosot, Ini Penyebab dan Dampaknya

Yudha Cilaros By Yudha Cilaros
3 Min Read
Saham Bank Mayapada Merosot, Ini Penyebab dan Dampaknya
Saham Bank Mayapada Merosot, Ini Penyebab dan Dampaknya

Saham PT Bank Mayapada Internasional Tbk. (MAYA) milik konglomerat Dato Sri Tahir mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Pada penutupan perdagangan Jumat (12/1/2024), harga saham MAYA berada pada level Rp306 per lembar atau melemah 13,56% secara harian¹. Dalam rentang sebulan, saham MAYA telah anjlok 46,67% dari level Rp574 per lembar pada 12 Desember 2023.

Penyebab

Ada beberapa faktor yang menyebabkan saham MAYA merosot, antara lain:

  • Masuknya investor baru Liang Xian Ltd. Pada 1 April 2021, Bank Mayapada mengumumkan bahwa perusahaan asing yang berlokasi di British Virgin Island itu telah membeli sebanyak 12,39% saham perseroan dengan nilai total Rp586,4 miliar³. Pembelian ini dilakukan melalui proses penerbitan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau right issue. Namun, pasca-aksi korporasi itu, harga saham MAYA malah merosot 6,61% menjadi Rp2.260 per saham pada 5 April 2021.
  • Kinerja keuangan yang menurun. Bank Mayapada mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 34,5% menjadi Rp1,02 triliun pada sembilan bulan pertama tahun 2023, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,56 triliun. Penurunan laba ini disebabkan oleh peningkatan beban operasional sebesar 18,8% menjadi Rp4,35 triliun dan penurunan pendapatan bunga bersih sebesar 5,5% menjadi Rp3,83 triliun.
  • Sentimen negatif dari pasar modal global. Saham MAYA juga tertekan akibat adanya dampak dari Archegos Capital Management yang gagal memenuhi margin call sejumlah bank jumbo global pada akhir Maret 2021. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang risiko sistemik dan likuiditas di pasar modal. Selain itu, saham MAYA juga terpengaruh oleh koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi sejak awal tahun 2024.

Dampak

- Advertisement -

Penurunan harga saham MAYA berdampak pada:

  • Pengikisan nilai kapitalisasi pasar. Dengan harga saham Rp306 per lembar, nilai kapitalisasi pasar Bank Mayapada menjadi Rp3,26 triliun, turun 46,67% dari Rp6,11 triliun pada 12 Desember 2023². Hal ini menunjukkan bahwa investor telah kehilangan kepercayaan terhadap prospek bisnis bank tersebut.
  • Penurunan peringkat kredit. Pada 10 Januari 2024, lembaga pemeringkat kredit Fitch Ratings menurunkan peringkat jangka panjang Bank Mayapada dari BBB- menjadi BB+ dengan outlook negatif. Penurunan ini mencerminkan peningkatan risiko kredit dan penurunan kualitas aset bank yang dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi yang lemah akibat pandemi Covid-19.
  • Peningkatan tekanan likuiditas. Dengan harga saham yang rendah, Bank Mayapada akan kesulitan untuk menggalang dana segar melalui pasar modal. Hal ini dapat membatasi kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dan meningkatkan biaya pendanaan. Selain itu, bank juga harus menghadapi persaingan yang ketat dari bank-bank lain yang memiliki modal dan likuiditas yang lebih kuat.
Share This Article