Sistem perbankan sering kali dianggap sebagai entitas yang sederhana dan lurus: tempat untuk menabung uang atau meminjam dana ketika dibutuhkan. Jika Anda bertanya kepada kebanyakan orang, mereka mungkin akan menjawab dengan kesan klise ini, tanpa benar-benar memahami bagaimana sistem perbankan modern berfungsi di balik layar.
Namun, apa yang kita ketahui tentang perbankan seringkali hanya lapisan permukaan, dan jika kita menggali lebih dalam, kita akan menemukan sejarah, mekanisme, dan bahkan implikasi sosial yang jauh lebih rumit dan menarik. Dalam artikel ini, kita akan membongkar tabir sistem perbankan modern dan mengeksplorasi mengapa sistem ini tidak bekerja seperti yang kebanyakan orang pikirkan.
Asal-Usul Perbankan Modern: Sebuah Sejarah yang Mengejutkan
Mungkin Anda berpikir bahwa perbankan dimulai dengan tujuan yang luhur, seperti memfasilitasi perdagangan atau membantu masyarakat mengelola keuangan mereka. Tetapi kenyataannya, asal-usul perbankan modern cukup mengejutkan dan jauh dari romantis. Sejarah perbankan sebenarnya dimulai dengan kebutuhan Gereja Katolik untuk mendanai Perang Salib.
Ya, Anda tidak salah baca. Menurut Michael Hudson, seorang ekonom yang terkenal dengan kritiknya terhadap sistem keuangan global, perbankan modern berakar dari upaya Gereja Katolik untuk mendapatkan dana untuk peperangan besar yang dilakukan pada abad pertengahan.
Gereja, yang pada saat itu merupakan lembaga yang sangat kuat dan kaya, membutuhkan uang untuk membiayai pertempuran besar, termasuk Perang Salib. Inilah yang memicu penciptaan sistem perbankan. Bahkan, pada masa itu, praktik “bunga” pertama kali diperkenalkan oleh Gereja untuk membenarkan peminjaman uang. Di masa lalu, ajaran Kristen melarang praktik riba, tetapi demi membiayai perang, gereja akhirnya mengubah pandangannya tentang bunga, menjadikannya instrumen yang sah untuk menciptakan pendanaan.
Namun, perbankan tidak berhenti di situ. Seiring berjalannya waktu, sistem ini berkembang dan berkembang menjadi alat yang lebih besar untuk mengendalikan pemerintahan. Para bankir, yang semakin berpengaruh, mulai menyatakan bahwa mereka ingin menggantikan kekuatan gereja dan mengendalikan negara melalui utang.
Dalam banyak hal, mereka berhasil mencapai tujuan ini. Bank-bank besar mulai mendanai perang dan pemerintahan, dan mereka memperoleh kekuatan politik yang luar biasa. Dengan kata lain, perbankan modern tidak hanya menciptakan utang, tetapi juga menciptakan sistem di mana utang itu menjadi instrumen pengendalian politik dan sosial.
Dari Pembiayaan Perang ke Negara Fiskal
Pada awalnya, perbankan berkembang untuk memenuhi kebutuhan perang, tetapi pada akhirnya, perbankan menjadi bagian integral dari pembentukan negara fiskal modern. Konsep negara fiskal ini menyarankan bahwa negara-negara modern diciptakan dengan tujuan untuk memungut pajak guna membayar utang yang diberikan oleh bankir internasional untuk mendanai peperangan. Dengan kata lain, negara bukan lagi hanya institusi yang mengatur masyarakat, tetapi menjadi alat untuk membayar utang yang tercipta dari aktivitas ekonomi yang lebih besar, termasuk perang.
Pada akhir abad ke-19, bank-bank besar semakin terlibat dalam pengambilan keputusan kebijakan ekonomi negara. Hal ini berujung pada penciptaan bank sentral, seperti Federal Reserve di Amerika Serikat pada tahun 1913, yang berfungsi untuk mengendalikan kebijakan moneter negara. Federal Reserve dan bank sentral lainnya, meskipun secara nominal independen, sering kali bekerja sama dengan sektor perbankan swasta untuk menciptakan dan mengatur utang negara.
Penciptaan Uang: Bank Lebih dari Sekadar Perantara
Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai perbankan adalah pandangan bahwa bank hanya bertindak sebagai perantara antara penabung dan peminjam. Banyak yang menganggap bahwa ketika kita menyimpan uang di bank, bank hanya menyimpannya dan kemudian meminjamkannya kepada orang lain yang membutuhkan dana. Padahal, kenyataannya jauh lebih rumit dan jauh lebih penting dari itu. Ketika bank memberikan pinjaman, mereka sebenarnya menciptakan uang baru. Ini adalah konsep dasar yang disebut “penciptaan uang melalui kredit.”
Proses penciptaan uang ini dimulai ketika Anda menyimpan uang di bank. Uang yang Anda simpan tidak hanya dibiarkan dalam rekening Anda, tetapi sebagian besar uang tersebut dipinjamkan kembali kepada peminjam lain. Sebagai contoh, ketika Anda menyetor uang di bank, bank tidak menyimpan seluruhnya. Mereka hanya menyimpan sebagian kecil dari simpanan Anda sebagai cadangan, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh bank sentral.
Sisa simpanan itu kemudian disalurkan sebagai pinjaman kepada orang lain. Ketika pinjaman itu diberikan, uang baru tercipta di sistem. Ini berarti bahwa setiap kali bank memberikan pinjaman, mereka tidak hanya memindahkan uang yang sudah ada, tetapi juga menciptakan uang baru dalam bentuk kredit.
Penciptaan uang melalui kredit ini adalah inti dari sistem perbankan modern dan menjelaskan bagaimana ekonomi dapat tumbuh melalui peningkatan jumlah utang. Namun, ini juga berarti bahwa sistem ini sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dan pemerintah untuk membayar kembali utang mereka, dan setiap kegagalan dalam pembayaran utang bisa memicu krisis finansial.
Fractional Reserve Banking: Ketidakstabilan yang Tersembunyi
Sistem fractional reserve banking adalah dasar dari sistem perbankan modern, di mana bank hanya menyimpan sebagian kecil dari simpanan nasabah sebagai cadangan dan meminjamkan sisanya. Sistem ini memungkinkan bank untuk menciptakan uang dalam jumlah besar, tetapi juga membawa risiko besar. Jika terlalu banyak nasabah yang menarik dana mereka secara bersamaan, bank mungkin tidak memiliki cukup uang tunai untuk memenuhi permintaan tersebut. Ini yang dikenal dengan istilah “bank run.”
Contoh nyata dari ketidakstabilan sistem ini adalah krisis keuangan global pada tahun 2008, di mana bank-bank besar yang terlibat dalam pemberian pinjaman berisiko tinggi menyebabkan terjadinya gelembung ekonomi yang akhirnya pecah. Bahkan pada 2023, kegagalan bank-bank besar seperti Silicon Valley Bank menunjukkan betapa rentannya sistem fractional reserve banking ini terhadap keruntuhan ekonomi.
Sistem ini juga mengarah pada penciptaan gelembung ekonomi, di mana nilai aset bisa melonjak secara tidak wajar karena semakin banyak uang yang tercipta melalui kredit. Sementara itu, ketidakstabilan ekonomi yang dihasilkan oleh sistem ini berpotensi menambah ketidakadilan, karena orang-orang dengan akses lebih mudah ke kredit (misalnya, perusahaan besar dan individu kaya) bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak, sementara masyarakat umum justru terperangkap dalam utang yang semakin membebani mereka.
Bank Sebagai Mesin Ekstraksi, Bukan Layanan
Mungkin Anda berpikir bahwa tujuan utama bank adalah untuk membantu masyarakat berkembang dan menciptakan kemakmuran. Namun, menurut Hudson, hal itu tidak sepenuhnya benar. Sebaliknya, sistem perbankan sering kali berfungsi sebagai mesin untuk mengekstraksi kekayaan dari masyarakat.
Bahkan, banyak kritik yang mengatakan bahwa produk utama dari sistem perbankan bukanlah kesejahteraan sosial, melainkan utang itu sendiri. Dengan kata lain, bank lebih fokus pada penciptaan utang dan rente, bukan pada menciptakan nilai ekonomi yang nyata.
Sebagai contoh, banyak dari apa yang disebut sebagai “pertumbuhan ekonomi” sebenarnya hanya mencerminkan peningkatan utang, bukan peningkatan produksi yang sesungguhnya. PDB, yang sering dipandang sebagai indikator utama keberhasilan ekonomi, bisa jadi hanya mencerminkan pertumbuhan utang dan biaya ekonomi yang dihasilkan oleh sistem ini, bukan penciptaan nilai atau kesejahteraan sejati.
Menyusun Ulang Sistem Perbankan
Mengingat banyaknya kelemahan dalam sistem perbankan konvensional, berbagai alternatif dan reformasi mulai dibahas. Salah satu alternatif yang diusulkan adalah sistem 100% reserve banking, di mana bank harus menyimpan seluruh simpanan nasabahnya sebagai cadangan, tanpa menciptakan uang baru melalui pinjaman. Dengan cara ini, bank tidak bisa lagi menciptakan utang secara sembarangan, dan sistem keuangan menjadi lebih stabil.
Selain itu, ada juga yang mengusulkan agar kredit dan penciptaan uang menjadi fungsi publik, bukan milik bank-bank swasta. Dalam sistem ini, pemerintah atau lembaga negara akan memiliki kendali penuh atas penciptaan uang dan kebijakan moneter, alih-alih menyerahkannya kepada bank swasta yang sering kali memiliki kepentingan jangka pendek yang berbeda dengan kepentingan masyarakat luas.
Penutup
Dengan segala kekurangan dan ketidakstabilannya, sistem perbankan modern memerlukan reformasi besar-besaran untuk memastikan bahwa ia dapat bekerja untuk kepentingan masyarakat, bukan hanya untuk memperkaya segelintir orang.
Jika krisis utang saat ini ada hikmahnya, itu adalah kesempatan untuk merestrukturisasi sistem perbankan yang ada. Menghadapi kenyataan bahwa bank-bank sering kali lebih mengutamakan keuntungan daripada kesejahteraan rakyat, masyarakat perlu semakin sadar akan pentingnya reformasi sistem perbankan yang lebih adil dan transparan.