Lebaran di Madura, dengan segala kegembiraannya, ternyata tidak hanya membawa suka cita, tetapi juga menyisakan jejak krisis ekonomi dan kesehatan yang kian mendalam.
Di balik pesta hidangan yang menggugah selera dan silaturahmi yang konon mempererat tali persaudaraan, ada harga yang harus dibayar, baik dalam bentuk utang yang menumpuk, maupun penyakit degeneratif yang mengancam.
Sebuah tradisi yang seharusnya merayakan kemenangan justru berakhir sebagai bumerang yang menghancurkan. Mari kita telusuri lebih dalam dampak-dampak yang sering kali terlupakan ini.
Krisis Ekonomi Rumah Tangga Akibat Tekanan Tradisi
Lebaran di Madura bukan hanya soal mempererat hubungan antar keluarga, tetapi juga soal bagaimana menanggung beban finansial yang berat. Harga bahan pangan melonjak tajam, dan bisa dipastikan, kenaikan tersebut tak pernah bisa diimbangi dengan kenaikan pendapatan.
Kenaikan harga pangan seperti daging, beras, dan minyak goreng bisa mencapai 30%, sebuah angka yang luar biasa mengingat mayoritas penduduk Madura bergantung pada sektor informal yang pendapatannya jauh dari cukup untuk memenuhi tuntutan tradisi ini.
Sebagai contoh, upah harian seorang buruh tani atau nelayan di Bangkalan hanya sekitar Rp50.000 hingga Rp80.000, sedangkan untuk menyiapkan hidangan Lebaran, mereka harus merogoh kocek minimal Rp1,5 juta. Jadi, dengan modal sekecil itu, bagaimana mereka bisa menanggung beban tradisi yang menuntut kemewahan?
Namun, tak hanya berakhir di situ. Banyak keluarga yang terpaksa berutang, masuk dalam jerat sistem ijon, dengan bunga pinjaman yang tak kalah mencengangkan. 60-70% transaksi pasar menjelang Lebaran dilakukan secara kredit, dan risiko gagal bayar mencapai 30%.
Setelah Lebaran usai, mereka terjebak dalam siklus utang yang membuatnya terhimpit selama berbulan-bulan. Pengeluaran untuk kebutuhan mendasar seperti pendidikan dan kesehatan pun terpaksa dipangkas demi melunasi utang Lebaran, yang tak kunjung selesai. Inilah ironi: sebuah tradisi yang seharusnya mempersatukan, malah menciptakan ketimpangan sosial yang semakin lebar.
Ancaman Kesehatan Publik dari Pola Konsumsi Tradisional
Lebaran di Madura juga berarti melimpahnya makanan berat dengan kadar lemak dan kolesterol tinggi. Sayangnya, makanan enak ini tidak cuma meninggalkan kenangan manis di lidah, tapi juga menyisakan masalah kesehatan yang kian parah. Data dari Puskesmas Socah menunjukkan lonjakan kasus hipertensi dan diabetes hingga 50% setelah Lebaran, dengan mayoritas pasien berusia di bawah 45 tahun.
Kenapa? Karena hidangan seperti topak ladeh yang lezat itu ternyata mengandung kalori hampir dua kali lipat dari kebutuhan harian tubuh. Ditambah dengan tradisi ter-ater yang mengharuskan setiap tetangga berbagi makanan, masyarakat Madura pun merasa terpaksa menghabiskan makanan berlebihan yang jelas-jelas tak baik bagi kesehatan mereka.
Belum lagi masalah keracunan makanan. Kurangnya kesadaran akan pentingnya higiene dalam memasak dan menyimpan makanan menjadikan Lebaran sebagai musim panen bagi bakteri patogen.
Di Sumenep, misalnya, ada 15 kasus keracunan makanan hanya dalam seminggu, banyak di antaranya disebabkan oleh daging yang tak dimasak sempurna atau disimpan dengan cara yang salah. Sungguh ironis, ketika pesta makanan yang seharusnya merayakan kemenangan justru membawa petaka bagi kesehatan masyarakat.
Kegagalan Sistemik dalam Mitigasi Dampak
Dalam menghadapi krisis ini, pemerintah tampaknya enggan bertindak. Meski ada upaya untuk menstabilkan harga melalui operasi pasar, hasilnya selalu saja nihil. Harga bahan pangan tetap melambung, distribusi pangan terhambat, dan para tengkulak semakin menggenggam kendali atas pasokan di Madura.
Lebih parah lagi, kebijakan yang diambil cenderung kurang efektif dan tidak berdampak langsung pada masyarakat bawah. Misalnya, pemerintah menyebutkan ada dana hibah untuk Lebaran, namun dana tersebut sering kali diselewengkan untuk proyek seremonial, seperti pembangunan gapura dan panggung hiburan, yang jelas tidak menyentuh akar masalah.
Disfungsi Sosial dan Erosi Nilai Budaya
Lebaran yang dulu dipandang sebagai waktu untuk mendekatkan diri dengan keluarga, kini sering kali berubah menjadi ajang pamer kekayaan. Bahkan, kunjungan ke rumah tokoh masyarakat atau keluarga besar kini sering kali diukur berdasarkan kemewahan bingkisan yang dibawa, bukan lagi dari kualitas silaturahmi yang sejati.
Keluarga yang tidak mampu memenuhi ekspektasi ini sering kali merasa tertekan dan teralienasi. Tradisi yang awalnya bertujuan menyatukan, kini malah memecah belah.
Lebih memprihatinkan lagi, kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas sering kali terabaikan dalam perayaan Lebaran yang serba mewah ini.
Banyak lansia yang merasa menjadi beban karena tidak bisa berkontribusi dalam persiapan Lebaran, sementara penyandang disabilitas kesulitan mengakses lokasi perayaan karena infrastruktur yang tidak memadai.
Sebuah ironi besar, ketika semangat kebersamaan yang diharapkan seharusnya menjangkau semua lapisan, justru mengabaikan mereka yang paling membutuhkan perhatian.
Kesimpulan
Lebaran di Madura adalah potret paradoks: sebuah tradisi yang seharusnya membawa kebahagiaan malah menyisakan penderitaan.
Di balik makanan lezat dan silaturahmi yang hangat, terdapat beban finansial yang berat, ancaman kesehatan yang mengintai, dan disfungsi sosial yang semakin memperburuk ketimpangan.
Sebuah tradisi yang diharapkan menjadi momen kebahagiaan, justru sering kali berubah menjadi sumber masalah yang tak terduga. Tanpa adanya solusi sistemik dan kesadaran kolektif untuk mengubah pola pikir serta kebijakan yang lebih bijaksana, dampak negatif ini akan terus berulang, menyakitkan, dan semakin merugikan masyarakat Madura.