Anak Depresi Setelah HP Dijual Ibu, Inilah Kisah Mengharukan dari Cirebon yang Harus Anda Baca!

Shofiyah By Shofiyah
3 Min Read
Anak Depresi Setelah HP Dijual Ibu, Inilah Kisah Mengharukan dari Cirebon yang Harus Anda Baca!
Anak Depresi Setelah HP Dijual Ibu, Inilah Kisah Mengharukan dari Cirebon yang Harus Anda Baca!

jlk – Sebuah kisah yang mengharukan dan memilukan telah terjadi di Cirebon, Jawa Barat.

Seorang bocah berusia 13 tahun, yang kita sebut sebagai A, mengalami depresi setelah handphone miliknya dijual oleh ibunya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Latar Belakang

Siti Anita (48), ibu dari A, mengungkapkan bahwa dirinya terpaksa menjual ponsel putranya karena dia harus menutup kebutuhan harian.

Suaminya yang bekerja di luar kota tidak mengirimkan uang selama 8 bulan. “Awalnya sih setelah HP punya A saya jual buat kebutuhan sehari-hari. Waktu itu kan suami gak ngirim uang 8 bulan waktu kerja di luar kota,” ungkap Siti Anita.

- Advertisement -

Dampak Psikologis

Depresi yang dialami A berakibat fatal. Ia menjadi sering melamun, menangis, dan mudah marah. A juga mengalami kesulitan tidur dan nafsu makannya menurun.

Kondisi ini membuat A tidak bisa fokus belajar dan terpaksa berhenti sekolah. “Setelah itu A emosinya nggak ke kontrol sering ngamuk-ngamuk lemparin barang,” ungkap Siti Anita.

Upaya Penanganan

Melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan, Siti Anita kemudian melakukan ruqiyah, namun tidak kunjung membaik.

Setelah itu A dibawa ke psikolog dan dinyatakan mengalami depresi. Namun, kondisi A tidak kunjung membaik karena Siti Anita mengaku dia terbentur ekonomi untuk membawa buah hatinya berobat secara rutin.

Harapan dan Dukungan

Anita berharap kondisi anaknya ingin segera normal kembali dan bisa menempuh pendidikan setelah satu tahun berhenti sekolah.

- Advertisement -

“Harapan ingin anak kembali normal dan bisa sekolah lagi,” pungkasnya.

Kisah A ini menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, terutama yang berdampak pada anak-anak.

Penting untuk mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan anak, serta mencari solusi terbaik tanpa harus mengorbankan kebahagiaan mereka.

- Advertisement -

Kesimpulan

Kisah ini adalah cerminan dari realitas kehidupan yang keras dan penuh tantangan.

Namun, di balik semua itu, ada pelajaran berharga yang bisa kita petik.

Kita perlu lebih peka terhadap kondisi psikologis anak-anak dan memastikan bahwa keputusan yang kita ambil tidak berdampak negatif terhadap kesejahteraan mereka.

Semoga kisah ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Share This Article