Hilirisasi Nikel dan Kasus Korupsi Timah: Dua Sisi Mata Uang Industri Pertambangan Indonesia

Firman Yudha Pragusti By Firman Yudha Pragusti
2 Min Read

Hilirisasi Nikel

Hilirisasi nikel telah menjadi topik hangat dalam diskusi ekonomi dan lingkungan di Indonesia. Proses ini melibatkan pengolahan nikel mentah atau biji nikel menjadi produk akhir yang memiliki nilai tambah dan bisa diperjualbelikan sehingga menciptakan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Pada tahun 2019, Indonesia berhasil mengukuhkan posisinya sebagai produsen bijih nikel terbesar di dunia. Dari total produksi nikel global sebanyak 2,67 juta ton, Indonesia menyumbang sekitar 800 ribu ton. Namun, hilirisasi nikel di Indonesia tidak lepas dari kontroversi.

Sejumlah ekonom menilai bahwa Indonesia semakin ketergantungan pada investasi China dalam 10 tahun terakhir. Mereka menilai “demam nikel” ini tidak berkelanjutan, karena tidak membawa efek berganda sesuai harapan dan membuat Indonesia rentan terdampak guncangan ekonomi China.

Aktivis lingkungan juga menganggap pemerintah tutup mata atas segala perampasan lahan, masalah kesehatan, dan kerusakan lingkungan yang selama ini terjadi atas nama investasi. Namun, pemerintah Indonesia tetap berpegang pada kebijakan hilirisasi nikel karena dianggap berhasil menciptakan lebih banyak lapangan kerja dibanding sebelumnya.

- Advertisement -

Kasus Korupsi Timah

Sementara itu, kasus korupsi timah telah mengejutkan publik Indonesia. Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan sekitar 16 orang tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam tata niaga komoditas timah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah Tbk pada 2015-2022.

Kerugian negara akibat kasus ini diduga mencapai Rp271 triliun. Kerugian terbesar berasal dari kerusakan alam akibat pembukaan tambang timah. Kejagung menggandeng ahli lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Hero Saharjo dalam rangka menghitung kerugian yang diakibatkan kerusakan alam hasil pembukaan tambang timah.

Indonesia memiliki potensi besar dalam industri pertambangan, terutama nikel dan timah. Namun, tantangan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan mencegah korupsi menjadi hal yang harus dihadapi. Hilirisasi nikel dan kasus korupsi timah menjadi dua sisi mata uang yang menunjukkan kompleksitas industri pertambangan di Indonesia.

Share This Article