Kantor Toyota Digerebek, Skandal Diesel Mencoreng Rekor Penjualan

Firman Yudha Pragusti By Firman Yudha Pragusti
7 Min Read
Kantor Toyota Digerebek, Skandal Diesel Mencoreng Rekor Penjualan
Kantor Toyota Digerebek, Skandal Diesel Mencoreng Rekor Penjualan

Toyota, nama yang sudah tidak asing lagi di dunia otomotif. Produsen mobil asal Jepang ini dikenal sebagai raja mobil dunia, dengan penjualan global mencapai 11,25 juta unit pada tahun 2023. Toyota juga terkenal dengan kualitas dan keandalan produknya, yang membuat banyak konsumen setia dan puas.

Namun, di balik gemerlapnya prestasi dan reputasi Toyota, ternyata ada sisi gelap yang tersembunyi. Baru-baru ini, Toyota mengakui telah melakukan manipulasi data dalam pengujian mesin diesel yang dipasok oleh anak usahanya, Toyota Industries Corp (TIC). Tidak hanya itu, skandal serupa juga melibatkan dua anak usaha lainnya, yaitu Hino dan Daihatsu.

Akibatnya, kantor TIC digerebek oleh petugas Kementerian Transportasi Jepang pada Selasa, 30 Januari 2024. Penggerebekan ini bertujuan untuk mengusut lebih lanjut kasus penipuan yang telah mengkhianati kepercayaan konsumen dan mengguncang sistem sertifikasi kendaraan.

Lalu, apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana Toyota bisa berlaku curang dalam pengujian mesin diesel? Dan apa dampaknya bagi Toyota dan konsumen, khususnya di Indonesia?

- Advertisement -

Manipulasi Data Torsi Mesin Diesel

Menurut laporan dari Kyodo News, TIC disebut memanipulasi asupan ke injektor bahan bakar dalam pengujian mesin sehingga torsi yang dihasilkan terlihat lebih besar dari aslinya. Torsi adalah gaya putar yang dihasilkan oleh mesin untuk menggerakkan roda. Semakin besar torsi, semakin kuat tenaga mesin.

Manipulasi data ini dilakukan dengan cara mengubah parameter pengujian, seperti suhu udara, tekanan udara, dan kecepatan angin. Dengan demikian, mesin diesel yang diuji akan mengonsumsi lebih banyak bahan bakar dan menghasilkan torsi lebih besar.

TIC mengaku telah melakukan manipulasi data ini sejak tahun 2016. Mesin diesel yang terlibat dalam skandal ini adalah mesin 1GD-FTV dan 2GD-FTV, yang digunakan untuk beberapa mobil Toyota, seperti Fortuner, Hilux, Land Cruiser Prado, dan Hiace.

Akibat dan Dampak Skandal Diesel

Skandal diesel ini tentu saja berdampak buruk bagi Toyota, baik dari segi hukum, bisnis, maupun citra. Toyota harus menghadapi penyelidikan dari pemerintah Jepang, yang bisa berujung pada sanksi administratif atau pidana. Toyota juga harus menanggung kerugian akibat penghentian pengiriman beberapa mobil diesel yang terdampak skandal ini.

Selain itu, Toyota juga harus mengembalikan kepercayaan konsumen, yang mungkin merasa tertipu dan kecewa dengan produk Toyota. Toyota harus bersikap transparan dan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan. Toyota juga harus melakukan perbaikan atau recall terhadap mobil diesel yang sudah terjual, jika diperlukan.

- Advertisement -

Skandal diesel ini juga terasa hingga ke Tanah Air. Pasalnya, salah satu mobil yang tersangkut dalam masalah ini adalah Toyota Fortuner buatan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang. Mobil ini mulai dijual sejak Mei 2020. Fortuner diesel buatan TMMIN ini diekspor ke Eropa, Timur Tengah, dan Asia.

Menurut pernyataan resmi dari PT Toyota Astra Motor (TAM), distributor resmi Toyota di Indonesia, skandal diesel ini tidak berpengaruh terhadap kualitas dan performa Fortuner diesel yang dijual di Indonesia. TAM juga menjamin bahwa Fortuner diesel yang dijual di Indonesia sudah memenuhi standar emisi Euro 4, yang lebih ketat dari standar emisi Euro 2 yang berlaku di Indonesia.

Namun, pernyataan ini tentu saja tidak cukup untuk meyakinkan konsumen. Banyak konsumen yang meragukan klaim TAM dan mempertanyakan apakah Fortuner diesel yang mereka beli benar-benar sesuai dengan spesifikasi yang dijanjikan. Apalagi, harga Fortuner diesel tidak murah, berkisar antara Rp 500 juta hingga Rp 700 juta.

- Advertisement -

Tanggapan dan Tindakan Toyota

Menyikapi skandal diesel ini, Chairman Toyota Motor Corporation (TMC) Akio Toyoda langsung turun tangan. Ia mengaku akan bertanggung jawab terhadap kegaduhan yang terjadi pada grup usahanya. Ia juga meminta maaf kepada konsumen dan masyarakat atas skandal yang telah terjadi.

Toyoda juga mengungkapkan visi baru untuk Toyota Grup, yaitu untuk “menciptakan jalan ke masa depan bersama-sama”. Salah satu dari lima sikap yang harus menjadi fokus karyawan adalah jujur dan lakukan segala sesuatunya dengan cara yang benar.

Toyoda juga menjanjikan akan melakukan perbaikan dan pencegahan agar skandal serupa tidak terulang lagi. Ia juga berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas dan keamanan produk Toyota, serta memenuhi harapan dan kebutuhan konsumen.

Kritik Pedas

Skandal diesel yang menimpa Toyota adalah contoh dari ketidakjujuran dan ketidaketikan dalam bisnis. Toyota, yang seharusnya menjadi teladan bagi industri otomotif dunia, ternyata juga bisa berbuat curang demi mendapatkan keuntungan dan pangsa pasar yang lebih besar.

Skandal ini juga menunjukkan betapa rentannya sistem sertifikasi kendaraan di Jepang, yang sebagian besar dilakukan oleh produsen sendiri. Hal ini membuat produsen bisa dengan mudah memanipulasi data dan mengelabui konsumen. Sistem ini harus segera direformasi agar lebih independen dan transparan.

Skandal ini juga menjadi pelajaran bagi konsumen, khususnya di Indonesia, untuk lebih kritis dan waspada terhadap produk otomotif yang ditawarkan oleh produsen. Konsumen harus memastikan bahwa produk yang mereka beli sesuai dengan standar kualitas, performa, dan emisi yang berlaku. Konsumen juga harus menuntut hak dan tanggung jawab produsen jika terjadi masalah atau ketidaksesuaian dengan produk yang mereka beli.

Toyota, sebagai produsen mobil terbesar di dunia, harus segera bangkit dari skandal diesel ini dan membuktikan bahwa mereka masih layak dipercaya dan dihormati. Toyota harus menjaga integritas dan etika bisnisnya, serta mengedepankan kepentingan konsumen dan lingkungan. Toyota harus kembali menjadi Toyota yang kita kenal dan kagumi.

Share This Article