Wacana Pajak Motor Konvensional Naik: Apa Tujuan dan Dampaknya?

Yudha Cilaros By Yudha Cilaros
4 Min Read
Wacana Pajak Motor Konvensional Naik: Apa Tujuan dan Dampaknya?
Wacana Pajak Motor Konvensional Naik: Apa Tujuan dan Dampaknya?

Pemerintah tengah menggodok rencana untuk menaikkan pajak sepeda motor berbahan bakar bensin atau motor konvensional. Wacana ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam acara peluncuran mobil listrik Build Your Dream (BYD) di Jakarta, Kamis, 18 Januari 2024. Menurut Luhut, kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi polusi udara, menghemat subsidi bahan bakar, dan mendorong penggunaan kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan.

Namun, wacana ini menuai berbagai tanggapan dari berbagai pihak, terutama industri sepeda motor dan masyarakat pengguna motor konvensional. Industri sepeda motor khawatir bahwa kenaikan pajak akan menurunkan permintaan sepeda motor baru, yang berdampak pada penurunan produksi, penjualan, dan ketenagakerjaan. Sementara itu, masyarakat pengguna motor konvensional merasa bahwa kenaikan pajak akan memberatkan biaya hidup mereka, terutama di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai.

Lalu, seberapa besar kenaikan pajak yang direncanakan pemerintah? Dan bagaimana cara pemerintah mengalokasikan penerimaan pajak tersebut? Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu diketahui:

  • Besaran kenaikan pajak. Luhut belum merinci berapa besar kenaikan pajak yang akan diterapkan, namun ia menyebut bahwa pajak motor konvensional akan dinaikkan secara bertahap. Ia juga mengatakan bahwa pajak motor listrik akan diturunkan atau bahkan dihapuskan untuk memberikan insentif kepada masyarakat. Sebagai perbandingan, saat ini pajak motor konvensional berkisar antara 1,5 persen hingga 2 persen, sedangkan pajak motor listrik sebesar 0,5 persen.
  • Alokasi penerimaan pajak. Luhut mengatakan bahwa penerimaan pajak dari motor konvensional akan dialokasikan untuk mensubsidi transportasi publik, seperti LRT atau kereta cepat. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi dan meningkatkan mobilitas masyarakat dengan transportasi massal yang lebih efisien dan murah. Selain itu, penerimaan pajak juga akan digunakan untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik di dalam negeri, termasuk infrastruktur pendukungnya seperti stasiun pengisian daya.
  • Dampak sosial dan ekonomi. Wacana kenaikan pajak motor konvensional tentu akan berpengaruh pada sosial dan ekonomi masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, kenaikan pajak akan menambah beban biaya bagi pemilik motor konvensional, yang mayoritas adalah masyarakat menengah ke bawah. Secara tidak langsung, kenaikan pajak akan memengaruhi industri sepeda motor, yang merupakan salah satu sektor andalan dalam perekonomian nasional. Industri sepeda motor menyumbang sekitar 10 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja. Jika permintaan sepeda motor menurun, maka produksi, penjualan, dan ketenagakerjaan juga akan terdampak.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa wacana kenaikan pajak motor konvensional memiliki tujuan yang mulia, yaitu untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, menghemat subsidi bahan bakar, dan mendorong penggunaan kendaraan listrik. Namun, wacana ini juga memiliki dampak yang signifikan, terutama bagi industri sepeda motor dan masyarakat pengguna motor konvensional. Oleh karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai aspek dan melakukan kajian yang mendalam sebelum mengambil keputusan. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya beralih ke kendaraan listrik dan transportasi publik. Dengan demikian, wacana kenaikan pajak motor konvensional dapat diterima dan diimplementasikan dengan baik.

- Advertisement -
Share This Article