Asumsi Sains yang Tidak Bisa Dijelaskan oleh Sains

rasyiqi By rasyiqi - Writer, Digital Marketer
7 Min Read
a wooden bowl filled with white eggs on top of a wooden table

Dalam perjalanan eksplorasi manusia, ada satu hal yang telah menjadi kejayaan gemilang: sains. Dengan kemahiran sains, kita mampu menjelaskan keajaiban alam, meracik teknologi canggih, serta meningkatkan taraf kehidupan kita.

Namun, di balik gemerlapnya prestasi, terdapat paradoks serta keterbatasan yang menggoda imajinasi. Tidakkah Anda menyadari, sahabatku, bahwa ada sejumlah misteri yang masih mengelilingi kita, meski telah kita serahkan segala urusan pada ilmu pengetahuan? Sebab, sains, sesungguhnya, adalah sebuah cerita yang senantiasa terbuka untuk dipertanyakan.

Tiada maksud saya untuk merendahkan derajat sains atau mengabaikan manfaatnya. Saya hanya mengajak Anda untuk melihatnya dari perspektif yang lebih tajam, skeptis, dan terbuka. Perspektif yang tak terjebak dalam belenggu dogma, otoritas, atau taqlid buta.

Perspektif yang mengakui bahwa sains adalah sebuah proses, bukan sekadar produk jadi. Proses yang senantiasa bergerak, berkembang, dan beradaptasi dengan realitas yang kompleks dan dinamis.

- Advertisement -

Izinkan saya membagikan beberapa contoh fenomena yang tak mampu dijelaskan oleh sains, atau setidaknya belum. Ini bukanlah sebuah sindiran atau celaan terhadap sains, melainkan sebuah undangan untuk mengeksplorasi petualangan yang penuh misteri, tantangan, dan keajaiban.

Mari kita mulai dari hal yang mendasar: kebenaran logika dan matematika. Kita memang tahu bahwa 1 + 1 = 2, namun, bagaimana kita dapat membuktikannya? Apakah kita bisa bergantung pada pengalaman empiris semata, seperti menghitung apel atau kelereng? Tidak, sebab pengalaman bisa menipu, tidak lengkap, atau tidak relevan.

Lalu, apakah kita bisa bersandar pada aksioma, teorema, atau rumus? Tidak, karena aksioma, teorema, dan rumus adalah sekadar asumsi manusiawi, bukan fakta yang absolut. Dan, bagaimana dengan intuisi, akal sehat, atau naluri? Sekali lagi, tidak, sebab semuanya dapat bervariasi tergantung konteks, budaya, atau emosi.

Jadi, bagaimana kita dapat memastikan bahwa 1 + 1 = 2? Jawabannya adalah: kita tidak bisa. Kita hanya bisa mempercayai bahwa 1 + 1 = 2, karena itulah kesepakatan yang kita buat bersama.

Kesepakatan yang memudahkan kita dalam berkomunikasi, berhitung, dan berpikir rasional. Namun, kesepakatan itu bukanlah hal yang mutlak, universal, atau abadi. Ia bisa berubah, beradaptasi, dan berevolusi seiring dengan kemajuan sains, teknologi, dan peradaban manusia.

- Advertisement -

Hal yang sama berlaku pula untuk metafisika, yaitu cabang filsafat yang merambah pada hal-hal di luar jangkauan fisika, seperti eksistensi, realitas, esensi, nilai, makna, dan tujuan.

Metafisika adalah lautan yang tak tersentuh oleh sains, sebab sains hanya mengamati, mengukur, dan menguji hal-hal yang dapat diamati secara empiris.

Metafisika adalah wilayah yang subjektif, spekulatif, dan terbuka pada interpretasi. Ia bergantung pada persepsi, perspektif, dan preferensi kita masing-masing.

- Advertisement -

Adakah kita benar-benar ada? Apakah ini adalah mimpi? Apakah kita sungguh-sungguh bebas? Apakah kebahagiaan itu nyata? Apakah kita memiliki arti? Apakah kita berakhir di sini?

Pertanyaan-pertanyaan ini takkan pernah ditemukan jawabannya dalam ruang lingkup sains, sebab sains tidak memiliki kunci untuk membuka pintu bawah sadar, pikiran, jiwa, atau roh kita. Pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh diri kita sendiri, dengan cara yang paling sesuai dengan diri kita masing-masing.

Mereka adalah tantangan bagi kita untuk menyelami diri lebih dalam, menghargai eksistensi lebih tinggi, dan mengembangkan diri lebih baik.

Selanjutnya, mari kita melangkah ke wilayah yang paling misterius dalam kosmologi: energi gelap dan materi gelap. Kedua entitas ini menantang pemahaman kita, sebab sains tak mampu mendeteksi, mengidentifikasi, atau mengukurnya secara langsung.

Mereka hadir di antara bayang-bayang, hanya bisa disimpulkan dari jejak yang mereka tinggalkan pada fenomena-fenomena lain, seperti perluasan alam semesta, rotasi galaksi, atau gravitasi bintang.

Namun, apa sebenarnya esensi dari energi gelap dan materi gelap? Darimana mereka berasal, dan apa peran serta fungsi mereka dalam tari-tari kosmik ini? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menggantung, tanpa jawaban yang memuaskan dari sains.

Mereka adalah tantangan bagi kita untuk mengeksplorasi alam semesta lebih dalam, memahami alam semesta lebih luas, dan menghargai keindahan alam semesta lebih dalam.

Selanjutnya, mari kita beranjak kepada sesuatu yang tidak kalah penting dalam fisika: cahaya. Meskipun tampak sederhana, cahaya adalah suatu misteri yang tak terpecahkan. Sains masih terus bertanya, apakah cahaya adalah partikel atau gelombang?

Apakah ia memiliki batasan kecepatan atau tidak? Apakah cahaya bisa ditekuk, dipantulkan, atau dibiaskan? Pertanyaan-pertanyaan ini masih menggantung, tanpa jawaban yang pasti dari sains.

Mereka adalah tantangan bagi kita untuk menguji, mengamati, dan menafsirkan cahaya dengan cara yang paling akurat, relevan, dan valid.

Dan akhirnya, mari kita membicarakan tentang kehidupan, salah satu misteri terbesar dalam ilmu biologi. Kehidupan, dalam segala keindahannya, masih menyimpan rahasia yang belum terpecahkan.

Sains tak mampu memberikan definisi yang tegas, klasifikasi yang pasti, atau karakterisasi yang universal terhadap kehidupan. Kehidupan adalah sesuatu yang relatif, kontekstual, dan sangat spesifik. Ia bergantung pada lingkungan, evolusi, dan adaptasi.

Apakah kehidupan berasal dari bumi atau dari luar angkasa? Apakah ia muncul dari materi organik atau anorganik? Apakah ada ciri khas yang melekat padanya, ataukah ia tak kenal batas? Pertanyaan-pertanyaan ini masih mengembara, tanpa petunjuk yang jelas dari sains.

Mereka adalah tantangan bagi kita untuk menjelajahi, memahami, dan menghargai kehidupan dengan cara yang paling etis, estetis, dan ekologis.

Demikianlah, sahabatku, beberapa contoh misteri yang masih menghiasi panggung sains, atau setidaknya masih menunggu untuk dipecahkan.

Semoga artikel ini dapat membuka wawasan, menginspirasi, dan memotivasi Anda untuk melihat sains dengan mata yang lebih tajam.

Sains bukanlah sesuatu yang harus kita takuti, puji, atau tolak begitu saja. Sains adalah sebuah perjalanan panjang yang harus kita nikmati, pelajari, dan kembangkan secara bersama-sama.

Topik:
Share This Article