Membangun Perkebunan Sawit yang Berkelanjutan: Dari Rancangan Blok Hingga Pembukaan Lahan Tanpa Bakar

Yudha Cilaros By Yudha Cilaros
7 Min Read
Membangun Perkebunan Sawit yang Berkelanjutan: Dari Rancangan Blok Hingga Pembukaan Lahan Tanpa Bakar
Membangun Perkebunan Sawit yang Berkelanjutan: Dari Rancangan Blok Hingga Pembukaan Lahan Tanpa Bakar

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian nasional. Namun, perkebunan kelapa sawit juga menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait dengan isu lingkungan, sosial, dan tata kelola. Oleh karena itu, membangun perkebunan sawit yang berkelanjutan menjadi keharusan bagi para pelaku usaha, baik skala besar maupun kecil.

Salah satu aspek penting dalam membangun perkebunan sawit yang berkelanjutan adalah tahap persiapan lahan, yang meliputi pemilihan lokasi lahan, rancangan blok kebun, dan pembukaan lahan. Tahap ini menentukan kualitas tanaman, produktivitas, dan dampak lingkungan dari perkebunan kelapa sawit. Artikel ini akan membahas langkah-langkah esensial dalam tahap persiapan lahan, dengan mengacu pada sumber-sumber terpercaya dan data yang akurat.

Pemilihan Lokasi Lahan yang Sesuai

Sebelum membangun perkebunan kelapa sawit, perlu dipahami karakteristik tanaman ini, terutama terkait dengan kebutuhan iklim dan tanah. Kelapa sawit tumbuh subur di wilayah tropis dengan suhu optimal antara 28 hingga 32 derajat Celsius sepanjang tahun. Ketinggian ideal tempatnya adalah antara 1 hingga 500 meter di atas permukaan laut, dengan kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan. Penyinaran matahari yang cukup juga penting, dengan kelapa sawit membutuhkan sekitar 5-7 jam sinar matahari per hari. Ini mendukung proses fotosintesis yang kuat, pertumbuhan pelepah daun yang optimal, dan akhirnya menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS) yang melimpah.

Namun, perlu diingat bahwa kelapa sawit membutuhkan air yang cukup. Kurangnya curah hujan di bawah 1.500 mm per tahun dan lebih dari 5 bulan musim kemarau dapat menghambat pertumbuhan pelepah daun secara optimal. Oleh karena itu, perlu memilih lokasi lahan yang memiliki curah hujan yang merata sepanjang tahun, atau setidaknya memiliki sumber air yang memadai, seperti sungai, danau, atau sumur.

- Advertisement -

Selain iklim dan kebutuhan air, pemilihan jenis tanah juga krusial. Kelapa sawit tumbuh baik di tanah datar, berdrainase baik, berlapis tebal, dan subur. Tanah yang mengandung banyak lempung, dengan pH tanah antara 4-6, menjadi pilihan yang baik¹. Jenis tanah seperti Latosol, Ultisol, Aluvial, gambut saprik, dataran pantai, dan muara sungai dianggap sesuai untuk perkebunan kelapa sawit. Penting untuk memilih lahan yang relatif datar dalam menanam kelapa sawit. Lahan yang bergelombang atau berbukit dapat menyulitkan proses panen dan angkutan TBS sawit, yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi. Erosi juga dapat terjadi lebih mudah di lahan yang tidak datar, mengakibatkan hilangnya tanah subur. Selain itu, akar kelapa sawit sulit menembus lapisan tanah yang keras, sehingga pertumbuhan tanaman dapat terhambat. Hindari juga menanam kelapa sawit di area yang mudah tergenang air, karena hal ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Rancangan Blok Kebun Kelapa Sawit

Setelah menemukan lahan yang sesuai dan memahami iklim wilayah, langkah berikutnya adalah merancang blok kebun. Perencanaan ini penting untuk menciptakan kebun yang terorganisir dengan baik, memudahkan proses pemanenan, terutama untuk perusahaan besar yang merancang Tata Ruang Perkebunan. Pada skala kecil, pekebun dapat memfokuskan pada pembuatan jalur seperti Gawangan Mati dan Jalan Pikul, yang memiliki peran khusus dalam manajemen kebun kelapa sawit.

Gawangan Mati adalah jalur yang dibuat di sepanjang barisan tanaman, dengan lebar 1,5 meter, untuk memudahkan pekerja memetik buah dan mengangkutnya ke Jalan Pikul. Jalan Pikul adalah jalur yang dibuat di antara blok tanaman, dengan lebar 3 meter, untuk memudahkan pekerja mengangkut buah dari Gawangan Mati ke Jalan Utama. Jalan Utama adalah jalur yang dibuat di sepanjang perbatasan kebun, dengan lebar 6 meter, untuk memudahkan kendaraan mengangkut buah dari Jalan Pikul ke Pabrik.

Rancangan blok kebun kelapa sawit harus memperhatikan beberapa hal, seperti luas lahan, pola tanam, jarak tanam, jumlah tanaman, dan arah tanam. Luas lahan harus diukur dengan akurat, dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang dapat mengurangi luas lahan yang dapat ditanami, seperti sungai, jalan, pemukiman, atau hutan lindung. Pola tanam harus dipilih sesuai dengan kondisi tanah, iklim, dan topografi. Ada beberapa pola tanam yang umum digunakan, seperti segitiga sama sisi, segiempat, segienam, atau segidelapan. Jarak tanam harus disesuaikan dengan pola tanam, dengan mempertimbangkan pertumbuhan tanaman, penyerbukan, dan penyinaran matahari. Jumlah tanaman harus dihitung berdasarkan luas lahan, pola tanam, dan jarak tanam. Arah tanam harus ditentukan berdasarkan arah angin dan matahari, dengan menghindari arah yang dapat mengurangi penyerbukan dan penyinaran matahari.

Pembukaan Lahan Tanpa Bakar

Setelah merancang blok kebun, langkah selanjutnya adalah melakukan pembukaan lahan. Praktik yang sangat dianjurkan adalah melakukan pembukaan lahan tanpa bakar atau zero burning. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat berat secara mekanis atau secara manual tergantung pada kondisi tegakan pohon di lahan yang akan dibuka. Pembukaan lahan tanpa bakar memberikan manfaat utama berupa udara bersih, peningkatan kandungan bahan organik dan anorganik tanah, serta perlindungan terhadap humus dan mulsa yang sudah terbentuk. Dengan meningkatnya kandungan bahan organik dan anorganik tanah, kesuburan fisik dan kimia tanah juga akan meningkat.

- Advertisement -

Proses pembukaan lahan tanpa bakar terdiri dari penebangan dan penumpukan. Penebangan dapat dilakukan secara manual atau mekanis, sementara penumpukan lebih mengandalkan cara mekanis. Persiapan yang matang, seperti pengukuran luas lahan, penetapan pola tanam, dan pemeriksaan jenis tanah, menjadi kunci untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembukaan lahan.

Pembukaan lahan tanpa bakar memiliki beberapa keuntungan, di antaranya adalah:

  • Perlindungan lingkungan, karena menghindari pembakaran membantu melindungi humus dan mulsa serta menjaga kelembaban tanah.
  • Kesuburan tanah terjaga, karena meningkatkan kesuburan fisik dan kimia tanah, termasuk perbaikan tekstur tanah dan peningkatan kapasitas penahanan air.
  • **Kelestarian lingkungan dari polusi
Share This Article