Trio Prajogo Rontok, Ini Kisah Pilu 10 Saham Paling Boncos Sepekan

Alvin Karunia By Alvin Karunia
6 Min Read

Pekan ini, pasar saham Indonesia diwarnai oleh koreksi tajam yang menimpa sejumlah emiten, terutama yang berafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu. Apa penyebabnya dan bagaimana dampaknya bagi investor?

JAKARTA – Pekan ini, pasar saham Indonesia diwarnai oleh koreksi tajam yang menimpa sejumlah emiten, terutama yang berafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu.

Saham-saham yang terkait dengan pemilik Grup Barito Pacific ini merosot drastis sepanjang pekan ini, bahkan menempati posisi 10 saham paling boncos atau top losers.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (13/1/2024), saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA), produsen petrokimia terbesar di Indonesia, menduduki peringkat pertama dengan pelemahan sebesar 37,82% ke level Rp3.560 per saham, padahal pekan lalu berada di level Rp5.725 per saham.

- Advertisement -

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), anak usaha Barito Pacific yang bergerak di bidang energi terbarukan, anjlok hingga 34,95% ke posisi Rp4.700 dari pekan lalu di level Rp7.225 per saham.

Sementara itu, saham induknya, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), juga parkir di jajaran top losers sepekan dengan pelemahan sebesar 21,11% ke level Rp1.065 dari Rp1.350 per saham.

Apa yang terjadi dengan trio Prajogo ini? Apakah ada masalah internal atau eksternal yang memicu penurunan saham-saham mereka? Dan bagaimana dampaknya bagi investor yang memiliki saham-saham tersebut?

Penyebab Pelemahan

Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebab pelemahan saham-saham Prajogo adalah adanya aksi jual besar-besaran oleh investor asing.

Data BEI menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan nilai jual bersih atau net sell sebesar Rp1,12 triliun pada hari Jumat (12/1/2024) dan sepanjang tahun 2024 investor asing telah mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp6,07 triliun.

- Advertisement -

Menurut analis PT Indosurya Bersinar Sekuritas, William Surya Wijaya, investor asing cenderung melepas saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar besar dan likuiditas tinggi, seperti TPIA, BREN, dan BRPT, untuk mengantisipasi risiko geopolitik global, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

“Kondisi geopolitik global yang tidak menentu membuat investor asing lebih berhati-hati dan mengurangi eksposur mereka di pasar saham emerging market, termasuk Indonesia. Mereka lebih memilih untuk berinvestasi di instrumen yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah atau emas,” ujar William kepada Bisnis.com.

Selain itu, William juga mengatakan bahwa pelemahan saham-saham Prajogo juga dipengaruhi oleh faktor fundamental masing-masing emiten.

- Advertisement -

Ia menilai bahwa kinerja keuangan TPIA, BREN, dan BRPT pada kuartal IV-2023 tidak terlalu bagus, sehingga menekan harga saham mereka.

“Kalau kita lihat laporan keuangan mereka, ada penurunan laba bersih pada kuartal IV-2023 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penurunan harga jual produk, kenaikan biaya produksi, dan perlambatan permintaan pasar,” papar William.

Dampak bagi Investor

Pelemahan saham-saham Prajogo tentu saja berdampak bagi investor yang memiliki saham-saham tersebut. Selain mengalami kerugian kertas atau capital loss, investor juga harus menanggung risiko likuiditas yang rendah.

Pasalnya, saham-saham Prajogo termasuk dalam kategori saham yang tidak likuid atau illiquid stock, yaitu saham yang sulit diperjualbelikan karena jumlahnya terbatas dan frekuensinya rendah.

Menurut William, investor yang memiliki saham-saham Prajogo sebaiknya tidak terburu-buru menjual saham-saham mereka, karena harga saham-saham tersebut sudah terkoreksi cukup dalam.

Ia menyarankan agar investor menunggu momentum yang tepat untuk menjual saham-saham mereka, yaitu ketika ada sentimen positif yang mendorong kenaikan harga saham.

“Kalau saya jadi investor, saya tidak akan menjual saham-saham Prajogo sekarang, karena harganya sudah terlalu murah.

Saya akan menunggu sampai ada sentimen positif, misalnya ada perbaikan kinerja keuangan, ada proyek baru, atau ada kenaikan harga komoditas. Kalau ada sentimen positif, biasanya harga saham akan naik dan likuiditasnya juga meningkat,” tutur William.

William juga mengingatkan agar investor tidak terjebak oleh saham-saham yang harganya murah, tetapi tidak memiliki fundamental yang baik.

Ia menyarankan agar investor lebih selektif dalam memilih saham-saham yang akan dibeli, dengan memperhatikan kinerja keuangan, prospek bisnis, valuasi, dan faktor-faktor lain yang relevan.

“Saham yang murah belum tentu bagus, apalagi kalau fundamentalnya tidak baik. Investor harus lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih saham.

Jangan hanya melihat harganya saja, tapi juga lihat kualitasnya. Pilih saham-saham yang memiliki fundamental yang baik, prospek bisnis yang cerah, dan valuasi yang wajar,” pungkas William.

Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan informasi yang Anda butuhkan. Jika Anda memiliki pertanyaan, saran, atau kritik, silakan tulis di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.

Share This Article