Ahok Mundur dari Pertamina demi Ganjar-Mahfud, Apakah Ini Langkah Bijak atau Bodoh?

Firman Yudha Pragusti By Firman Yudha Pragusti
8 Min Read
Ahok Mundur dari Pertamina demi Ganjar-Mahfud, Apakah Ini Langkah Bijak atau Bodoh?
Ahok Mundur dari Pertamina demi Ganjar-Mahfud, Apakah Ini Langkah Bijak atau Bodoh?

Ahok, siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini? Mantan Gubernur DKI Jakarta yang terkenal dengan gaya blak-blakan, tegas, dan berani mengambil keputusan. Ahok juga dikenal sebagai sosok reformis yang berhasil melakukan perubahan di berbagai bidang, mulai dari transportasi, kesehatan, pendidikan, hingga penataan kota.

Namun, karier politik Ahok tidak selalu mulus. Ia harus menghadapi berbagai rintangan, termasuk kasus penistaan agama yang membuatnya divonis dua tahun penjara. Meski begitu, Ahok tidak patah arang. Ia tetap berjuang untuk bangkit dan kembali berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Salah satu bentuk kontribusinya adalah dengan menerima tawaran Presiden Joko Widodo untuk menjadi Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) pada November 2019. Ahok ditugaskan untuk melakukan perbaikan dan transformasi di BUMN migas tersebut, yang selama ini dianggap bermasalah dan tidak efisien.

Tidak tanggung-tanggung, Ahok langsung mengambil langkah-langkah strategis untuk membenahi Pertamina. Ia melakukan rotasi jabatan, menghapus jabatan fungsional, mengevaluasi proyek-proyek besar, hingga menurunkan harga BBM. Ahok juga berani mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilainya merugikan Pertamina, seperti impor minyak mentah dan subsidi elpiji.

- Advertisement -

Tak ayal, langkah-langkah Ahok ini menuai berbagai reaksi. Ada yang mendukung, ada yang menentang, ada yang memuji, ada yang mencibir. Namun, Ahok tidak peduli. Ia tetap konsisten menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan integritas.

Namun, siapa sangka, di tengah-tengah perjalanan karirnya di Pertamina, Ahok tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya pada 2 Februari 2024. Alasannya, ia ingin mendukung dan mengkampanyekan pasangan calon presiden Ganjar Pranowo dan Mahfud MD di Pemilu 2024.

Keputusan Ahok ini tentu mengejutkan banyak pihak. Bagaimana tidak, Ahok baru saja menjabat sebagai Komut Pertamina selama dua tahun lebih. Ia juga belum menyelesaikan berbagai program dan target yang telah ditetapkan. Belum lagi, Ahok meninggalkan Pertamina di saat kondisi perusahaan sedang sulit akibat pandemi COVID-19 dan fluktuasi harga minyak dunia.

Lantas, apakah keputusan Ahok ini merupakan langkah bijak atau bodoh? Apakah Ahok benar-benar ingin mendukung Ganjar-Mahfud, atau ada motif lain di balik pengunduran dirinya? Apakah Ahok sudah bosan atau frustrasi dengan Pertamina, atau ada tekanan dari pihak-pihak tertentu? Apakah Ahok sudah mempertimbangkan dampak dan konsekuensi dari keputusannya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi Pertamina?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita perlu melihat dari berbagai sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang Ahok sendiri. Ahok mungkin merasa bahwa ia sudah berbuat cukup bagi Pertamina. Ia mungkin merasa bahwa ia sudah memberikan kontribusi yang signifikan bagi perbaikan dan transformasi Pertamina. Ia mungkin merasa bahwa ia sudah menjalankan amanah Presiden dengan baik dan profesional.

- Advertisement -

Ahok juga mungkin merasa bahwa ia memiliki panggilan yang lebih tinggi, yaitu untuk berpartisipasi dalam kontestasi politik nasional. Ahok mungkin merasa bahwa ia memiliki visi dan misi yang sejalan dengan Ganjar-Mahfud, yaitu untuk mewujudkan Indonesia yang unggul, adil, dan lestari. Ahok mungkin merasa bahwa ia memiliki kemampuan dan pengalaman yang dapat membantu Ganjar-Mahfud dalam memenangkan Pemilu 2024.

Ahok juga mungkin merasa bahwa ia memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara untuk mendukung dan mengkampanyekan calon presiden dan wakil presiden yang ia yakini. Ahok mungkin merasa bahwa ia tidak bisa setengah-setengah dalam hal ini. Ahok mungkin merasa bahwa ia harus fokus dan total dalam mendukung Ganjar-Mahfud, tanpa terbebani oleh jabatan dan tanggung jawab lain.

Dari sudut pandang ini, keputusan Ahok untuk mundur dari Pertamina bisa dibilang sebagai langkah bijak. Ahok menunjukkan sikap yang jujur, berani, dan tegas. Ahok tidak ingin bermain dua kaki, atau berada di antara dua kursi. Ahok tidak ingin menjadi beban bagi Pertamina, atau menjadi konflik bagi Ganjar-Mahfud. Ahok tidak ingin menjadi korban dari politik dagang sapi, atau menjadi boneka dari kepentingan tertentu.

- Advertisement -

Ahok juga menunjukkan sikap yang idealis, visioner, dan patriotik. Ahok ingin berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara, bukan hanya bagi kepentingan pribadi atau kelompok. Ahok ingin menjadi bagian dari solusi, bukan menjadi bagian dari masalah. Ahok ingin menjadi agen perubahan, bukan menjadi penjaga status quo.

Namun, dari sudut pandang lain, keputusan Ahok untuk mundur dari Pertamina bisa dibilang sebagai langkah bodoh. Ahok meninggalkan jabatan yang strategis, prestisius, dan berpengaruh. Ahok melepas peluang untuk menjadi pemimpin di sektor energi, yang merupakan sektor vital bagi perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Ahok mengorbankan karier yang cemerlang, untuk menjadi relawan yang tidak pasti.

Ahok juga meninggalkan tugas yang belum selesai, tanggung jawab yang belum dipenuhi, dan harapan yang belum terwujud. Ahok mengecewakan banyak pihak yang mengharapkan kinerja dan kreativitasnya di Pertamina. Ahok menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian bagi jajaran direksi, karyawan, dan pemangku kepentingan Pertamina. Ahok menambah beban dan tantangan bagi penggantinya nanti.

Ahok juga mengambil risiko yang besar, tantangan yang berat, dan konsekuensi yang fatal. Ahok masuk ke medan perang politik yang penuh dengan intrik, konflik, dan manipulasi. Ahok berhadapan dengan lawan-lawan yang tangguh, kuat, dan berpengalaman. Ahok bergantung pada koalisi partai yang rapuh, tidak solid, dan tidak loyal. Ahok bermain api dengan isu-isu sensitif yang bisa menghancurkan reputasi dan karismanya.

Dari sudut pandang ini, keputusan Ahok untuk mundur dari Pertamina bisa dibilang sebagai langkah bodoh. Ahok menunjukkan sikap yang gegabah, emosional, dan tidak rasional. Ahok tidak mempertimbangkan secara matang dampak dan konsekuensi dari keputusannya. Ahok tidak memikirkan secara bijak alternatif dan solusi lain yang mungkin ada. Ahok tidak menghargai secara penuh jabatan dan tanggung jawab yang telah diberikan kepadanya.

Jadi, apakah keputusan Ahok ini merupakan langkah bijak atau bodoh? Jawabannya tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Namun, yang pasti, keputusan Ahok ini merupakan langkah yang berani dan bersejarah. Keputusan Ahok ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang tidak mudah ditebak, tidak bisa diprediksi, dan tidak bisa dikendalikan. Keputusan Ahok ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang selalu membuat heboh, selalu membuat sensasi, dan selalu membuat perubahan.

Keputusan Ahok ini juga menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang memiliki idealisme, visi, dan misi yang kuat. Keputusan Ahok ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang memiliki komitmen, integritas, dan tanggung jawab yang tinggi. Keputusan Ahok ini menunjukkan bahwa ia adalah sosok yang memiliki kemampuan, pengalaman, dan kontribusi yang besar.

Share This Article